BISEANG 2022, INOVASI ATAU HALUSINASI?


Tak ada laut yang tak berombak, tak ada usaha tanpa risiko dan kesulitan.

    Peribahasa yang sangat tepat untuk menjelaskan keadaan pagi ini, 18 Mei 2022. Di ruangan meja bundar yang dingin itu para peserta menunggu dengan gugup. Jam menunjukkan pukul 09.00 WITA, pagi itu acara dibuka dengan suara lembut moderator. Ketiga juri duduk bersampingan, bersiap menilai para peserta yang akan mempresentasikan tiap-tiap desain mereka. Sebagai salah satu dari rancangan besar MARINESIA 2022, BISEANG 2022 Memperlombakan inovasi desain kapal ikan guna menjadi solusi dari pergumulan-pergumulan dari para nelayan di Indonesia. Setelah penyaringan yang ketat, terpilih lah tim-tim yang berhasil mendapatkan kesempatan melakukan presentasi, salah satunya adalah tuan rumah sendiri, Unhas. Tepat setelah acara dibuka, 3 tim dipersilakan oleh moderator untuk bertolak dari tempat presentasier, yang berada lantai 3 Gedung Center of Technology, menuju ke tempat pameran, yang masih berada di satu area yang sama dengan Gedung COT untuk menunggu giliran mereka. Dinilai oleh 3 juri, Bapak Muhammad Akbar Asis, St. Mt, Bapak Andi Husni Sitepu, St. Mt, serta Prof. Dr. Daeng Paroka St, Mt, moderator mempersilakan tim ber-almamater kuning, yaitu Universitas Negeri Semarang dengan tim bertajuk ‘Senopati’ untuk berhadapan dengan juri mempresentasikan desain mereka.

    Diawali dengan alunan pantun, tim Senopati membuka presentasi mereka. Senopati tim mencuri perhatian para hadirin dengan mempelopori inovasi dengan inovasi Photovoltaic, yang berlanjut hingga LED Light Fishing. Namun, para juri punya pendapat lain. Prof. Dr. Daeng Paroka mempertanyakan inovasi mereka pada praktik nyata, berapa banyak daya yang dibutuhkan untuk bisa menjalankan kapal tersebut? “Inovasi yang mereka berikan sadah bagus, tetapi bagaimana mereka mengembangkan dan mengimplementasikan konsep-konsep mereka dalam aplikasi praktis”. Prof. Dr. Daeng Paroka menambahkan komentar pada akhir presentasi. Pertandingan kembali dilanjutkan oleh KPK team yang berasal dari ITERA, dengan menyongsong inovasi untuk menyelematkan ekosistem terumbu karang di laut, Muhammad Husni Sangdarso memberikan solusi yaitu dengan gilnet kurau otomatis. Namun, di tengah presentasi, para hadirin, juri, dan bahkan peserta sendiri dikejutkan dengan hal tak terduga, layar presentasi sesaat menghitam dan bergaris. Presentasi berhenti sesaat, namun mental para pejuang dengan almamater biru laut itu tak ciut sedikitpun, mereka tetap melanjutkan presentasi tanpa bantuan layar peraga. Ketiga tim lain yang bertolak ke pameran tadi kembali ke ruangan yang dingin itu, bertukar dengan kedua tim sebelumnya. Tak lain tak bukan, tim ketiga yang akan mempresentasikan hasil karya mereka adalah tuan rumah sendiri, Unhas. “Ya kalau namanya tuan rumah pasti ada perasaan ‘kita harus juara’, kan? Banyak beban yang harus dipikul, salah sedikit pasti malu karena kita tuan rumah. Kalau bahagia, bahagia pastinya karena banyak keuntungan yang didapat sebagai tuan rumah.” Sebut Andi Jaya Wardanah Yusuf, mahasiswa angkatan 2019 dari Fakultas Teknik Sistem Perkapalan Unhas. Mengusung panggilan ‘Sunny Go’ bagi kapal ikan mereka, nama yang mungkin tak asing bagi pecinta animasi asal Negeri Sakura, One Piece, Uda beralmamater hijau tua dan bersuara lantang dari USU, Universitas Sumatera Utara membawakan presentasi karya mereka yang juga mengangkat inovasi dengan memanfaatkan panel surya. Sayang seribu sayang, Uda dari USU gagal menyorot inovasi utama yang bisa saja mereka jadikan senjata utama mereka, yaitu teknologi Hybrid fuelling.

    Terakhir tapi tak kalah penting, giliran tim Artasena asal IPB untuk menyajikan karya mereka. Dengan membawakan inovasi palka portable, membuat para nelayan lebih fleksibel dalam mengangkut hasil tangkapan dari kapal menuju pelabuhan. Sempat dipertanyakan mengenai fasilitas pengangkut oleh Pak Husni, namun hal itu tidak menjadi hambatan untuk para mahasiswa yang diketuai oleh lelaki berkacamata, Faisal Atthoriq, beserta dengan dua wanita ayu yang menemaninya. "Untuk sekarang, nelayan-nelayan kita membutuhkan inovasi, dan untuk meningkatkan mutu, sudah dijelaskan inovasi tentang palka ikan, penerangan, menggunakan teknologi ramah lingkungan, akademisi harus selalu mempertimbangkan untuk meningkatkan mutu ikan dan dapat meningkatkan ekonomi untuk para nelayan." Tutur juri kita, Pak Akbar Asis pada akhir presentasi kelima tim tersebut. Namun, perjuangan mereka tak berakhir sampai situ, di esok hari para peserta harus memberikan pembuktian terhadap konsep mereka, bagaimanakah hasil dari pembuktian mereka?

Penulis : Joshua D Chandra

0 Komentar